Reinterpretasi Tubuh dan Mef
Tradisi Mef membentuk beberapa bahasan yang berbeda. Orang Maba menyebut Mef sebagai I’pa ce, orang Patani Ta’i pa dan orang Weda Cogo’i pa yang yang semuanya berarti: Bukan Dia.
Tradisi Mef membentuk beberapa bahasan yang berbeda. Orang Maba menyebut Mef sebagai I’pa ce, orang Patani Ta’i pa dan orang Weda Cogo’i pa yang yang semuanya berarti: Bukan Dia.
Hari ini, Gwo Manei seperti menemukan tubuh barunya. Bisa dalam bentuk kebijakan yang jauh dari rakyat, atau keputusan yang mengabaikan keberlanjutan ruang dan hidup warga. Gwo Manei tidak lagi menakutkan karena wujudnya, tapi cara kerjanya yang lebih diam.
Musik ini mungkin asing bagi sebagian orang Jakarta. Tapi malam itu, kabata terdengar seperti suara tanah adat yang belum selesai diperjuangkan.
Saya hidup dalam ruang dan waktu di mana lalu lintas kehidupan melewati pesisir, tanjung, dan pulau. Justru di sanalah saya merasakan Mabapura, ketika saya berada di sebuah pulau kecil bernama Belemsi.
Pikiran itu membuat saya sedikit gugup, agak canggung. Ada beban sejarah yang diam-diam duduk di samping saya.
Saya tidak menikmati masa-masa sekolah terutama dalam kelas. Kecuali usia SD, mungkin karena di sekolah dasar saya anggap sebagai tempat bermain. Dari pada sendiri di rumah, lebih baik ke sekolah karena ada senam pagi. Saya dan teman-taman biasa menambah gerakan lain dalam senam yang lucu-lucu.