Kuasa Pengetahuan Tunggal, Kisah Sekolah yang Menyebalkan

Oleh Ismunandar Marsaoly

23 Mei 2026

Yang paling menyeramkan di ruang kelas sekolah adalah ketika guru bertanya mengenai pelajaran yang ia sampaikan. Untuk menghindari sorot mata si guru, saya biasa menunduk, sembunyi di balik pundak teman yang duduk di depan saya. Agar tidak jadi sasaran tanya.

Saya tidak suka momen itu. Karena jika salah jawab, atau tidak mengerti akibatnya bisa fatal. Pernah teman saya, dua tangannya digenggam si guru, lalu ditendang dengan ujung sepatu bot hitam yang keras itu.

Itu terjadi saat ia salah mengucapkan kalimat Bahasa Inggris. “De pipel playing bedminton,” ia baca menjadi “the people playing badminton.” Ia melafalkannya sebagaimana huruf-huruf itu biasa dibaca dalam bahasa Indonesia.

Di dalam kelas itu menyebalkan. Pun kalau ada yang asik di sekolah, itu hanya saat bel istirahat berbunyi. Saya tidak menikmati masa-masa sekolah terutama dalam kelas. Kecuali usia SD, mungkin karena di sekolah dasar saya anggap sebagai tempat bermain. Dari pada sendiri di rumah, lebih baik ke sekolah karena ada senam pagi. Saya dan teman-taman biasa menambah gerakan-lain dalam senam yang lucu-lucu.

Hari paling asik adalah Sabtu, dan waktu paling menjengkelkan adalah Minggu sore karena esok Senin saya harus kembali ke sekolah lagi. Saya tak tahu apa sebab proses belajar itu membosankan. Paling, hanya karena di sekolah waktu bermain jadi hilang. Selain juga harus ada beban tambahan bernama pekerjaan rumah (PR). Untuk yang satu ini saya memang paling malas.

Barulah belakangan saya mulai paham semua situasi hati yang jelak-jelek mengenai sekolah itu berakar pada falsafah pendidikan dan cara belajar yang salah. Hubungan guru-murid tidak bersifat intersubjektif tapi relasi subyek dan obyek. Guru subyek yang paling tahu, dan murid adalah wadah kosong-pasif menampung pengetahuan.

Sekolah adalah jalan mula-mula reproduksi pengetahuan dalam modelnya yang satu arah itu berlangsung. Yang menjadikan manusia merasa tidak berdaya-upaya. Yang membuat kita tidak menaruh penghargaan atas dirinya sendiri, tapi lebih suka menjadi orang lain.

Seperti di awal. Rasa takut ditanya atau bertanya itu hampir—untuk tidak mengatakan semuanya—merata di semua siswa. Saya mungkin hanya salah satu dari sekian banyak anak sekolah yang tertekan dan tidak menikmati proses belajar yang sedianya bertujuan bagi perkembangan jiwa dan pikiran itu.

***

“Apa tugas seorang Ayah?”. Begitu bunyi pertanyaan sekolah pada ujian anak saya nomor dua saat dia di bangku SD. Dia jawab, tugas bapak adalah mencari ibu. Lucu? Iya memang. Tetapi itulah batas pengertian anak seusia itu. Konsep mencari nafkah sebagaima yang dimau oleh guru mengenai tugas seorang ayah belum ada di dalam otak anak saya, Omer.

Pendidikan mestinya lebih memberi tempat atas keragaman pengertian, pemahaman berdasarkan pengalaman setiap orang. Bagi orang seperti Paulo Freire, sekolah bukan layaknya bank dengan model transfer pengetahuan.  Sekolah adalah proses bersama untuk mengamati, menganalisa, dan memecahkan masalah bersama atas persoalan yang dialami, yang dirasakan.

Mengenai model pendidikan macam ini, saya hanya mengaksesnya dari sedikit literatur, di antaranya buku Pendidikan Kaum Tertindas-nya Paulo Freire. Itu pun hanya pengertian-pengertian konseptual saat masih kuliah dulu. Bukan metode dan cara yang bisa diterapkan dalam pengalaman hidup yang konkret.

Baru, sekira enam bulan ini, dalam dua kali putaran belajar-bersama dengan Seventythree Foundation, saya tak hanya mengerti tetapi juga mengalami langsung bagaimana proses belajar yang kami adakan itu begitu demokratis, terbuka, setara, dan ada rasa saling menghargai pengalaman dan ilmu masing-masing orang bahkan pun orang itu buta huruf.

Kesadaran bahwa tiap manusia adalah manusia. Punya pengalaman, punya pengetahuan adalah hal mendasar. Dalam konteks pendidikan, tak hanya di sekolah, tetapi juga pada masyarakat, landasan paling pokok itu nyaris tak punya ruang. Akibatnya, hegemoni ilmu, kepakaran, sentralitas pengetahuan, dan kewenangan pengabaikan pengalaman nyata serta pendapat orang-orang biasa dan kelas bawah. Pengabaian atas keragaman itu kita saksikan memang direproduksi terus menerus. Di dalam keluarga, di sekolah, di organisasi, dan apalagi di level struktur politik dan pemerintahan.

Belajar Mendengar

Ada satu sesi di sekolah singkat yang Salawaku adakan beberapa waktu lalu. Kita berpasangan, berdua. Satu bercerita dan yang lain cukup mendengar. Tanpa interupsi, tanpa menyelah, cukup diam, dengar. Nah, semua dari kami betul-betul merasa berat, dan terkendala.  Mendengar dengan sepenuh rasa tanpa macam-macam atas cerita merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Seperti saya yang terbiasa menganalisa cerita, memotong pembicaraan, cepat bertanya dan lain-lain itu. Belum lagi seperti sekarang ini bagaimana kita menyaksikan orang bercerita tapi mata dan jari-jari tidak berhenti mengusap gawai di tangan.

Meski begitu, sikap mental saya mendengar cerita memang agak baik. Saya berusaha menahan diri dari keinginan untuk memotong dan memberi pendapat. Hingga cerita kawan saya itu selesai. Barulah saya paham apa yang disebut empati. Mendengar dengan rasa penuh-seluruh adalah jalan masuk ke dalam jiwa orang yang bercerita sehingga kita dapat merasakan apa masalah yang ia rasakan.

Dalam banyak hal, pengertian atas segala masalah sudah sering. Tetapi mencapai empati sepertinya hanya dapat diperoleh dengan jalan mendengar dengan penuh-seluruh itu.

Listening survey-namanya, lewat survei mendengar itulah, kita bukan hanya menemukan persoalan yang paling dirasakan orang, tetapi juga tema-tema yang bisa menggerakkan kesadaran dan tindakan bersama.

*Pegiat Salawaku Institute. Mukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.