INFO TERBARU

Kertas Kebijakan; Menyelamatkan Pegunungan Wato-wato

Melalui kertas kebijakan ini, Salawaku Institute bersama JATAM menyajikan analisis mengenai posisi strategis Pegunungan Wato-Wato sebagai infrastruktur ekologis, persoalan tata ruang, potensi pelanggaran prinsip perlindungan lingkungan hidup, risiko ekologis dan sosial pertambangan, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi ruang hidup mereka.
Read More

Ada yang Sakit antara RPJMD dan APBD Haltim 2026

Jika kita peras RPJMD itu, tampaklah tahun 2026 bukan dirancang sebagai tahun ekspansi pembangunan fisik semata. Tahun ini dirancang sebagai fase memperkuat fondasi agar pembangunan pada tahun-tahun berikutnya memiliki pijakan yang kuat.
Read More

‘Gwo Manei’ dan 40,8 Miliar

Hari ini, Gwo Manei seperti menemukan tubuh barunya. Bisa dalam bentuk kebijakan yang jauh dari rakyat, atau keputusan yang mengabaikan keberlanjutan ruang dan hidup warga. Gwo Manei tidak lagi menakutkan karena wujudnya, tapi cara kerjanya yang lebih diam.
Read More

Visi

Kami membayangkan komunitas-komunitas kepulauan yang berdaulat atas wilayah hidupnya, tangguh menghadapi perubahan sosial–ekologis, dan sejahtera menurut ukuran warga sendiri.

Upaya ini ditempuh melalui proses belajar bersama yang adil, jujur, dan berakar pada pengetahuan lokal, ingatan kolektif, serta tata kelola hidup yang tumbuh dari dalam komunitas.

Misi

  1. Mendorong ketahanan dan kemandirian komunitas
  2. Menemani komunitas sebagai subjek, bukan objek pembangunan
  3. Membuka ruang dialog yang setara dan non-hierarkis.
  4. Bersama komunitas untuk menafsir ulang adat dan tradisi

Sejarah

Salawaku berakar di Teluk Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Sejak 2014, melalui Majalah Salawaku, Ruang Bertutur Orang Biasa, kami menghimpun cerita warga sebagai kerja mengingat—mencatat hidup, perubahan, dan ketahanan masyarakat di tanah mereka sendiri.

Kini, Salawaku bekerja sebagai lembaga sosial–ekologis yang melakukan riset, pendidikan kritis, dan advokasi melalui pendampingan yang setara dan bermakna.

Kami belajar bersama warga, merumuskan masalah bersama, dan mencari jalan keluar bersama. Salawaku memilih menjadi Perisai Ingatan, menjaga pengetahuan lokal dan ruang hidup dari lupa dan kerusakan.