Saya melangkah pelan sambil memegang stand microphone hitam yang ringan. Di hadapan saya, lebih dari tiga ratus penonton duduk menunggu. Dalam hati saya bergumam, “Wah, beginikah rasanya tampil di panggung kampus Reformasi?”
Sebagian lampu dimatikan. Tinggal lampu panggung yang menyala. Di belakang saya, videotron menampilkan poster film Pesta Babi: Kolonialisme Zaman Kita. Instrumen kabata mulai diputar, mengiringi tangan saya memasang microphone ke stand. Saat suara fiol bergema padat di dalam ruangan, saya sadar bulu kuduk saya berdiri. Memang, instrumen kabata ini punya daya sendiri. Cukup buat orang diam dan mengingat kembali tangan-tangan nenek moyang.
Petikan gitar Koko Jack berayun masuk ke telinga penonton. Gesekan fiol Bojes menyusul, memenuhi ruangan bersama suara Koko Jack—adik Bojes—yang melantunkan syair kabata khas orang Maba, Patani, dan Weda.
Beberapa kali mereka pernah mengiringi saya baca puisi di atas panggung. Malam itu, lewat rekaman, mereka ikut hadir di kampus Reformasi ini. Terima kasih, kaka beradik Koko Jack dan Bojes. Saya rindu kalian. Suara Koko Jack terdengar memenuhi ruangan:
“….Ee barakati ee, papa tete barakati la tong pe pemimpin bor bicara, papa tete barakati la. Ee fato-fato ee, kie range fato-fato la, manjangi kie Tidore, kie range fato-fato la…”
Syair itu perlahan hilang, digantikan irisan fiol dan petikan gitar yang lagi-lagi buat saya merinding. Dengan tenang, saya beri salam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Penonton membalas pelan.
Musik ini mungkin asing bagi sebagian orang Jakarta. Tapi malam itu, kabata terdengar seperti suara tanah adat yang belum selesai diperjuangkan. Malam itu saya merasa memiliki kuasa kecil di atas panggung: membuat orang diam, lalu mendengar kembali apa yang selama ini dilakukan penguasa negeri ini.
Saya menatap para penonton. “Izinkan saya baca puisi yang saya juduli: Peluru Syair Ufuk Timur.
Subuh di ufuk timur Nusantara,
matahari dan gemintang
dibasuh ayat-ayat langit.
Semalam, sinar rembulan hampir pecah
saat syahadat bersumpah
atas tanah airnya sendiri.
Air mata dan derita jatuh berlipat ganda
di atas sajadah penghujung malam.
Tangis kembali pada rasa sakit,
sedang amarah pulang pada tempatnya,
aku berdayung dalam perahu “Bismillah.”
Ketika korupsi dan awan hitam
menutupi batin, kalajengking bersorban ekologi.
Hei, nenek moyangku sudah mahir
mengukir sabda adigium tanpa ada perpecahan.
Nenek moyangku menulis hukum laut dan belantara
dalam dada pulau ini.
Pulau yang menyimpan nyali
dalam laut paling bergelombang,
dan sungai paling purba mengalir
dalam darahku.
Wahai Raja-raja.
Penjaga pulau-pulau, gunung, teluk, dan tanjung, kami masih diarsip dalam angka,
bukan luka yang bernyawa.
Pasal-pasal menjelma belati,
mengiris tanah, menghapus
kami dari atlas dunia.
Masih saja, kami diketuk
tanpa didengar suaranya,
bukankah mawar reformasi
telah lama ditabur?
Siapakah yang mampu menahan
peluru syair dari pelatuk Jalaluddin Rumi saat rezim Orde Baru berdiri?
Aku melihat kebijaksanaan bersimpul
dari genggammu, aku melihat pembangunan
dari debu yang engkau hirup.
Dalam kepungan industri,sakramen puisi lahir dari
rahim tanah adat, bukan dari jubah hijau agama
yang berubah hitam pekat.
Bukan wajah kolonial yang berganti topeng,
bukan pula hilirisasi yang mengepakkan sayap
saat burung cendrawasih merintih.
Suara ini sebagai amarah anak negeri, semoga terdengar
dalam gendang telinga anak kandung oligarki.
Bahwa kami bukan puing, kami fondasi.
Bukan ranting kering, tapi akar-akar tua bangsa ini.
Ciputat, 29 April 2026
*M Gilang Moenawar. Penyair muda Teluk Buli, saat ini sedang studi di Jogja.