‘Gwo Manei’ dan 40,8 Miliar

Oleh M Gilang Moenawar

10 Juni 2026

Halmahera sejak lama dipenuhi cerita mistik, mitologi, dan legenda yang diwariskan dari leluhur ke generasi berikutnya. Salah satunya cerita Gwo Manei: sosok yang dipercaya memiliki kekuatan gaib, pemakan manusia, dan sosok menakutkan dalam ingatan kolektif orang Maba dan Buli. Gwo Manei bukan hanya dongeng pengantar tidur, tapi simbol ketakutan, peringatan, dan bayangan gelap yang membentuk cara pandang orang terhadap dunia.

Tapi benarkah Gwo Manei hanya cerita masa lalu? Ataukah ia masih hidup, atau mungkin bertransformasi, dan hadir dalam bentuk yang tak lagi dikenali?

Menempatkan Gwo Manei semata sebagai makhluk mitologis adalah cara paling halus untuk melupakannya. Karena sejarah tidak pernah benar-benar berlalu, hanya berganti rupa. Jika dulu dipercaya memangsa manusia, hari ini mungkin saja menjelma dalam bentuk yang lebih sulit dikenali.

Ia tidak lagi sembunyi di hutan-hutan sunyi. Gwo Manei dapat hadir dalam praktik ketidakadilan, dalam eksploitasi tanah dan kehidupan, dalam sistem yang perlahan “memakan” masa depan masyarakatnya sendiri. Gwo Manei dengan begitu dapat berubah dari sosok mitologis menjadi struktur yang bekerja dan berdampak nyata.

Hari ini, Gwo Manei seperti menemukan tubuh barunya. Bisa dalam bentuk kebijakan yang jauh dari rakyat, atau keputusan yang mengabaikan keberlanjutan ruang dan hidup warga. Gwo Manei tidak lagi menakutkan karena wujudnya, tapi cara kerjanya yang lebih diam.

Karena itu, membaca ulang gwo manei bukan cuma menghidupkan folklore. Tapi upaya mengenal pola kuasa yang terus berulang. Yang kita warisi bukan hanya cerita, tetapi juga jejak kekerasan yang menyusup ke dalam keseharian.

Gwo manei masih ada dan mungkin terlalu dekat. Persoalannya, apakah kita cukup berani mengenalinya ketika ia tidak lagi menyerupai apa yang dahulu kita takuti? Jika kita melihat Halmahera Timur hari ini dengan lensa Gwo Manei, jejaknya mulai tampak dalam kenyataan yang sangat konkret. Tidak lagi hadir sebagai bayangan, tetapi praktik yang bisa dikenali.

Salah satunya penggunaan anggaran Rp40,8 miliar untuk perbaikan kanal di dalam Kota Maba. Satu sisi, dapat dibaca bagian dari pembangunan. Sisi lain yang lebih luas; sejauh mana penggunaan anggaran sebesar itu benar-benar menjawab kebutuhan paling mendesak orang Halmahera Timur?

Di sinilah Gwo Manei tampak menemukan relevansinya.

Di Buli, warga masih terkendala air bersih, kali Kukuba yang kian berlumpur. Sementara di Maba Selatan, akses internet masih terbatas. Di Maba Utara, jalan lintas belum memadai. Dan berbagai persoalan dasar lainnya.

Dalam pengertian ini, Gwo Manei bukan lagi makhluk yang memangsa tubuh manusia. Ia adalah sistem yang perlahan menggerus rasa keadilan, hadir dalam prioritas yang timpang, distribusi pembangunan yang tidak merata, dan dalam keputusan yang semakin jauh dari suara rakyat.

Yang kita hadapi sesungguhnya adalah cara pikir yang hanya melihat pembangunan sebagai angka, tetapi melupakan manusia; yang mengukur kemajuan dari proyek, tetapi mengabaikan kehidupan.

Pada titik ini, Gwo Manei tidak lagi berada di luar-kita. Ia tidak hanya hidup dalam struktur kekuasaan, tetapi juga bisa berdiam dalam kesadaran kita sendiri: dalam cara kita menerima, membenarkan, bahkan membiasakan pelbagai ketimpangan.

Dan mungkin inilah bentuknya yang berbahaya. Saat ketidakadilan tidak terasa sebagai sesuatu yang harus dilawan, tapi sesuatu yang wajar saja. Jadi, melawan Gwo Manei hari ini tidak cukup dengan menunjuk ke luar sana. Tapi juga menuntut keberanian untuk bertanya, menolak bungkam, dan untuk menguji kembali hal-hal yang selama ini kita anggap biasa.

Jika tidak begitu, kita akan terus hidup di dalamnya tanpa menyadari bahwa kita sedang dikelilingi—atau mungkin menjadi bagian—dari sesuatu yang dahulu kita takuti itu.

Dan di situlah ironinya. Gwo Manei tidak lagi butuh wujud untuk menakuti manusia. Dia hanya cukup membuat manusia berhenti merasa takut.