Mabapura dan Ruang Batinku
Saya hidup dalam ruang dan waktu di mana lalu lintas kehidupan melewati pesisir, tanjung, dan pulau. Justru di sanalah saya merasakan Mabapura, ketika saya berada di sebuah pulau kecil bernama Belemsi.
Saya hidup dalam ruang dan waktu di mana lalu lintas kehidupan melewati pesisir, tanjung, dan pulau. Justru di sanalah saya merasakan Mabapura, ketika saya berada di sebuah pulau kecil bernama Belemsi.
Saya tidak menikmati masa-masa sekolah terutama dalam kelas. Kecuali usia SD, mungkin karena di sekolah dasar saya anggap sebagai tempat bermain. Dari pada sendiri di rumah, lebih baik ke sekolah karena ada senam pagi. Saya dan teman-taman biasa menambah gerakan lain dalam senam yang lucu-lucu.
Yang hadir dalam kenyataan hanyalah apa-apa yang sebelumnya sudah ada di dalam pikiran. Kotornya pikiran para petinggi perusahaan akhirnya mengotori sungai, pesisir, dan lautan.
Usia SD hingga SMA, saban minggu saya bertemu dengan Kali Kukuba. Kaki saya akan selalu basah di situ, saat melaluinya dalam hari-hari peknik libur-minggu. Hubungan saya dan Kukuba mungkin tidak sedalam orang Buli Asal yang sangat kenal sungai itu.