Saya, Kukuba dan Kotoran PT. Feni Haltim

17 Mei 2026

Oleh: Ismunandar Marsaoly*

Dalam ingatan saya, usia SD hingga SMA, saban minggu saya bertemu dengan Kali Kukuba. Kaki saya akan selalu basah di situ, saat melaluinya dalam hari-hari peknik libur-minggu. Hubungan saya dan Kukuba mungkin tidak sedalam orang Buli Asal yang sangat kenal sungai itu. Kita tahu, orang Buli Asal dan Kukuba seperti ruang tamu dan dapur.

Pesisir Desa Buli Asal. Di sekitar Kali Kukuba, Kecamatan Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Bongko dan Nyinyen Mamagal adalah tempat favorit. Dengan satu atau dua rol 20 atau 36 kutik, pesisir Kukuba dan Bongko selalu menjadi latar foto-foto teman dan keluarga. Awal dan penghujung tahun 90-an terasa tersimpan di sana.

Lagi. Yang paling kuat adalah kuburan tua milik moyang keluarga Tandean di bukit kecil itu, di Bongko itu serta rumah kecil Tete Pado di sekitar kali Kukuba. Kalau ditanya, tempat rekreasi mana yang paling sering didatangi. Jawabnya adalah sekitar Kukuba, Bongko, dan Nyinyen Namagal.

Andai saja semua diatur lebih rapi dan aman, mungkin Kukuba dan Bongko akan jadi suatu tempat piknik yang dapat dipertahankan. Kukuba tak hanya bentangan pantai dan bukit bukit yang indah, tetapi juga tempat itu sudah amat menyejarah. Tempat 36 kutik dihabiskan di situ dengan mafu-mafu atau ketupat, atau mungkin sekadar makanan ringan seperti kacang kiring dan fanta sambil menanti senja. Pulang lalu bakusiram.

Di situ. Di kukuba itu, anak-anak SD bersama guru mereka menikmati libur-minggu. Yang paling saya ingat, dari guru-guru yang suka ajak kami ke sekitar Kukuba dan Bongko adalah Pak Mat, Guru olahraga SD Inpres. Dia orang Tidore.

Lain hal tentang Kukuba, Bongko, dan Nyinyen Mamagal adalah tempat pukat nilon menjaring ikan-ikan dan tongkat-tongkat kayu nastib. Namun waktu merubah itu semua. Kukuba, Bongko, dan Nyinyen Mamagal menjadi tempat paling dekat juga paling sunyi. Seperti ada jerak-mental begitu rupa karena ragam kejadian yang tak dikehendaki hadir di situ.

Kini, rol-rol tiga puluh enam kutik telah berubah jadi camera android. Dan pasar Buli dengan ikan-ikan dari perairan terjauh yang jadi pilihan paling praktis mengganti pukat nilon dan tongkat-tongkat nastib di pesisir. Atau layar-layar putih perahu tradisional dari Pulo Gei menjadi coolbox.

Atau mungkin ‘diri’ sebagai Orang Buli di mata penguasa hanya dianggap virus berbahaya sehingga perlu diisolasi seperti rumah kecil Tete Pado di sekitar Kukuba pada penghujung sembilan puluhan itu. Kumuh, tidak berguna, terasing, dan tak perlu didengar. Dan begitulah PT. Feni Haltim memandang Amdal tidak penting. Kukuba hanya sekadar tempat pembuangan kotoran, virus dan racun, seperti anggapan kita mengenai Tete Pado di Kukuba kala itu.

*Pegiat Salawaku Institute. Mukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.