Mungkin kita perlu melihat ulang proses kita memaknai tradisi Mef yang sudah mengakar kuat menjadi budaya turun temurun Orang Fagogoru (Maba, Patani dan Weda). Tradisi yang digelar setiap bulan Rabiul Awal memperingati hari lahir Jou Nabi Muhammad Saw.
Menarik melihat kembali relasi dari tubuh dan Mef itu. Tubuh menyimpan identitas individu yang utuh seperti nama dan wajah, tubuh juga menyimpan identitas sosial seperti jabatan dan suku.
Lalu, apakah Mef menyimpan identitas?
Topeng seringkali dipandang sebagai upaya menutupi yang asli, yang sebenarnya. Dalam Mef kita bisa temukan hubungan ekspresi-tubuh dengan unsur dasar pembentuk manusia. Jika kita perhatikan bagaimana Mef dibuat; ada berbahan kayu, melambangkan api. Pandan laut (Buro-buro) yang melambangkan angin. Pelepah sagu melambangkan air. Dan lumpur melambangkan tanah.
Bahan baku itu seperti representasi hubungan manusia dengan unsur-unsur pembentuk kehidupan. Saat tubuh mengenakan Mef, ia sedang memakai identitas aslinya. Karena sejatinya apa guna tubuh tanpa api, angin, air dan tanah? Tradisi ini sebetulnya tak hanya berhenti pada perayaan hari lahir Jou Nabi Muhammad Saw tetapi bagaimana kita merasakan dan mempertanyakan kembali siapa kita?
Di titik ini, saya kembali mempertanyakan pengalaman saya ketika memakai Mef, ketika belum memakai Mef saya bernama Gilang. Saya bekerja sebagai buruh tambang, saya bersuku Maba atau Buli. Setelah saya kenakan Mef, setelah Mef menyatuh tubuh saya, apakah saya masih Gilang? Jabatan? Suku?
Tak ada lagi Gilang, kuli tambang, dan suku. Saya merasa yang ada hanyalah tubuh, Mef dan gerak. Saya menyebutnya pergeseran identitas tubuh ke asalnya.
Mungkin itulah sebabnya sehingga tradisi Mef membentuk beberapa bahasan yang berbeda. Orang Maba menyebut Mef sebagai I’pa ce, orang Patani Ta’i pa dan orang Weda Cogo’i pa yang yang semuanya berarti: Bukan Dia.
Lalu dia siapa?
Dia bukan nama, bukan wajah, bukan status sosial, bukan suku. Dia tubuh yang sedang menatap dan berekspresi menjadi dia yang sesungguhnya, mungkin dia api, angin, air dan tanah karena pada dasarnya tubuh bergantung pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya: tanah, air, udara/angin, api, flora, fauna, makanan, ruang hidup, dan relasi sosial.
Saat tubuh mengenakan Mef, ia sedang memakai identitas aslinya.
Mef dengan begitu memungkinkan manusia mengalami kembali hubungannya dengan unsur-unsur yang menopang kehidupannya. Mef juga dapat menjadi ruang kembali merasakan hubungan tubuh dengan api, angin, air dan tanah, antara tubuh dan flora-fauna, tubuh dan proses terbentuknya. Kita hadirkan Mef setiap tahun, tetapi ruang refleksi asal manusia, belum benar-benar mengekspresikannya.
Di zaman macam ini, Pukul memukul harusnya sudah jadi cambuk diri untuk mengingatkan muasal manusia.
Misalnya:
Pukul untuk mengingatkan agar kampung dijaga.
Pukul untuk mengingatkan agar air tidak dirusak.
Pukul untuk mengingatkan agar tanah tidak dihancurkan.
Pukul untuk mengingatkan agar sesama manusia tidak saling menghisap.
Di sini-lah interaksi tubuh-Mef dan tubuh nama, tubuh jabatan, tubuh suku yang saling mengingatkan satu sama lain.
Jadi, apa yang sebenarnya sedang kita rayakan. Ketika tubuh kita menggunakan Mef, sementara tanah, air, hutan, dan ruang hidup yang tadinya bagian dari kita, sekarang sesuatu yang asing dan merasa bukan bagian dari kita.
Dengan Mef mungkin kita dapat terhubung kembali dengan semua makna itu. Di satu sisi kita memakai Mef, tetapi lain sisi kita kehilangan makna. Jika demikian, apa sebenarnya yang sedang kita pakai? Mef, atau tubuh Mef tanpa makna?