Mabapura dan Ruang Batinku

Oleh Ismunandar Marsaoly

26 Mei 2026

Saya benar-benar merasakan Mabapura bukan semata dari kampung itu sendiri. Barangkali setiap orang memiliki jalan masuknya masing-masing untuk menyelami cita rasa sebuah kampung.

Kampung adalah ruang hidup yang membentuk interaksi manusia dengan segala suka dukanya, senyum dan tangisnya, gembira dan sedihnya. Meskipun saya bukan bagian dari dinamika sosial dan sejarah kampung Mabapura, saya memiliki cara tersendiri untuk menyentuh cita rasa kampung ini.

Tali batin itu bukan di darat melewati gunung-gunung atau sungai-sungai seperti Gunung Es atau aer nof. Mungkin karena saya tidak sempat melihat cokelat, komoditas utama Mabapura, yang ada di daratan sebelum keberadaan teri menjadi bagian yang melayani kehidupan.

Saya hidup dalam ruang dan waktu di mana lalu lintas kehidupan melewati pesisir, tanjung, dan pulau. Justru di sanalah saya merasakan Mabapura, ketika saya berada di sebuah pulau kecil bernama Belemsi.

Belemsi bagi saya adalah penghubung dengan Mabapura. Belemsi adalah lensa hidup yang menyimpan semua gambaran mengenai kampung itu. Di sana, saya melihat banyak bagan, teri yang dijemur, dan seluruh ritme kehidupan nelayan.

Solidaritas sedarah, senasib, dan sepenanggungan tumbuh subur di antara para pendatang yang mengejar ruang hidup yang lebih menjanjikan kesejahteraan.

Dari Belemsi, saya dapat menyelami ruang batin yang membentuk sejarah Mabapura—persentuhannya dengan lautan dan pulau-pulau. Saya merasa sulit melepaskan Mabapura dari teluknya yang indah, dengan ratusan bagan yang berlabuh di lautan teduh itu.

Mungkin karena sejak lahir hingga tumbuh besar, saya melihat dinamika kehidupan orang-orang Mabapura di lautan. Jika bersilaturahmi dengan keluarga di Mabapura, kami menyusuri birunya lautan, dari pesisir Buli hingga bebatuan pecahan karang di sepanjang pantai Mabapura tempat perahu berlabuh, telah menjadi bagian dari hidup saya.

Sulit bagi saya membaca Mabapura dari satu kurun waktu ketika industri ekstraksi mulai datang dan sedang tumbuh.

Hingga saat ini, yang ada dalam benak saya adalah bahwa Mabapura adalah bagan, ngafi, perahu-perahu nelayan, kofo, dan hal-hal yang berkaitan dengan laut. Meski kampung ini dan seluruh irama hidupnya telah berubah sama sekali.

Membaca Mabapura adalah membaca solidaritas senasib sepenanggungan melalui cerita perpindahan: dari daratan melalui cokelat, dan dari laut melalui teri dan ratusan bagan. Itu yang membuat Mabapura tampak kompak dengan kekhasannya tersendiri.

Dua puluh tahun terakhir hingga setengah abad ini, Mabapura menghadapi tantangan yang sangat berbeda dari masa-masa sebelumnya. Tantangan yang lebih kompleks, sehingga solidaritas senasib sepenanggungan harus ditanam lebih dalam ke dasar tanah dan lebih jauh ke lautan, seperti jangkar dan pandara perahu nelayan.

*Ismunandar Marsaoly. Pegiat di Salawaku Institute. Mukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.