Pengalaman menonton film Pesta Babi—yang belakangan menjadi perbincangan paling membara di kancah nasional—rasanya perlu saya tulis. Pengalaman ini begitu berarti bagi saya, terlebih setelah melihat berbagai kontroversi yang muncul, termasuk pembubaran kegiatan nonton bareng yang dialami sejumlah teman di beberapa tempat.
Malam itu Jakarta Barat diguyur hujan. Saya duduk di teras depan Gedung Auditorium Universitas Trisakti. Kawan-kawan Kepresidenan Universitas Trisakti dan Ikatan Mahasiswa Indonesia Timur Trisakti mengundang saya untuk baca puisi.
Gerimis turun pelan. Saya membatin lirih, “Ini Trisakti, salah satu kampus yang melahirkan reformasi 1998.” Pikiran itu membuat saya sedikit gugup, agak canggung. Ada beban sejarah yang diam-diam duduk di samping saya.
Lamunan saya terputus. Seorang kawan memanggil. Dimas, yang kebetulan kuliah di sini—adalah orang yang menghubungi saya untuk baca puisi malam ini. Saya tidak tahu dari mana ia mengenal saya. Mungkin dari video-video puisi di TikTok, atau story Instagram kakak saya, Hizbullah.
Saya menghampirinya pelan. Kami membuka percakapan dengan dialek kampung yang sama-sama kami pahami. Dimas, seperti saya, juga berasal dari Halmahera Timur.
“Somo mulai kah?” tanya saya sambil menggaruk kepala.
“Iyo, mari sudah, Kak. Dudu di dalam,” jawabnya.
Kami naik ke lantai enam menuju ruangan nobar yang sudah disiapkan. Saya berdiri di belakang panggung. Dimas memperkenalkan saya sebagai pembaca puisi pada teman-temannya.
Di belakang panggung itulah saya tahu: ada dua pembaca puisi malam ini. Teman-teman dari Papua juga akan tampil. Saya menjabat tangan mereka satu per satu, disertai sapaan karib, “pace, pace.”
Malam itu bukan sekadar nonton film. Ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak. Perlahan saya tarik napas. Tampak pembawa acara mulai membuka kegiatan. “Ya Allah, semoga semuanya berjalan lancar,” doa saya dalam hati. Seperti acara-acara lain, malam itu juga diisi sambutan dari orang-orang penting di kampus. Namun saya tidak benar-benar mendengar. Ruangan itu terasa tertutup dan suara-suara dari dalam hanya sampai sebagai gema.
Sesekali tepuk tangan pecah, lalu menghilang bersama suara-suara yang samar. Semua itu seperti beradu dengan suara di dalam diri saya sendiri: degup jantung yang tak beraturan dan rasa gugup yang terus berusaha saya lawan. Di balik panggung itu, saya tidak hanya menunggu giliran tampil tapi juga sedang bergulat dengan diri sendiri.
Dimas datang lagi.
“Mo pangge Kakak Gils pe nama sapa?”
“Gilang Moenawar saja,” jawab saya sambil berdiri, berusaha tenang di hadapan Dimas. Sambil tersenyum Dimas bilang, “Oke, baik Kak.” Ia juga mengulurkan sebotol air mineral. Entah ia beli sendiri atau disiapkan panitia.
Saya kembali duduk. Riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terus menggema, seolah memanggil tapi juga menekan. Di tengah gema itu, saya menundukkan kepala. Berbincang dengan diri sendiri. Saya teringat penampilan puisi dari dua penyair besar yang saya kagumi. Salah satunya Rachmat Marsaoly, atau yang biasa saya sapa Kaka Ato. Kami pernah berdiri di satu panggung dalam Festival Koropon 2023. Dialah salah satu sosok yang selalu menyalakan semangat saya untuk belajar menulis dan membaca puisi.
Semua itu berputar di kepala saya seperti baling-baling mesin katinting. Datang diam-diam ke belakang panggung ini—menjadi bayang-bayang sekaligus dorongan. Di antara gema tepuk tangan yang tak kunjung reda, saya kembali bertanya dalam hati: apakah saya siap berdiri di panggung itu, seperti Afrizal Malna yang mampu membawakan cerita dari puing-puing sejarah dan benda-benda yang telah lama mati.
Tentu saja saya bisa. Apalagi malam itu saya merasa sedang membawa beban dalam puisi yang saya tulis—beban Sumatera, beban Jawa, beban Kalimantan, beban Sulawesi, beban Halmahera, beban Papua—dan seluruh beban Indonesia di bawah langit kolonial zaman kita.
Saya larut dalam percakapan dengan diri sendiri. Begitu dalam, sampai hampir lupa bahwa saya sedang menunggu tantangan besar di atas panggung itu. Kesadaran itu datang perlahan: sebentar lagi saya akan membacakan puisi di hadapan lebih dari tiga ratus orang, dan di hadapan salah satu sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono.
Tiba-tiba Dimas datang lagi. Ia menatap saya lalu berkata, “Semangat, Kak Gils. Sedikit lagi.”
Saya membalas dengan senyum. Senyum yang berusaha menyembunyikan gejolak di dalam diri saya sendiri.
Tepat saat itu Dimas berbalik. Wajah bulatnya menghadap saya.
“Abis ini, Kak Gils.”
“Baik,” jawab saya singkat.
Sambil menutupi rasa gugup, saya mulai mengganti kostum. Beberapa kali tampil baca puisi di Jogja dan Bandung, saya memang biasa memakai outfit seperti ini: sehelai kain, dapi. Kaos putih dengan love biru kecil di dada kiri dan love besar di bagian belakang bertuliskan, “I am is Cukardeng me.”
Brand ini selalu memberi kesan agak bajingan ketika saya berdiri di atas panggung. Kaos itu saya minta langsung dari owner-nya, Sayakoko—laki-laki muka-garap yang sering muncul di beranda TikTok kebanyakan orang.
Peci hitam yang keramat tak lupa juga saya pakai.
Nama saya dipanggil.
Suara itu keluar dari mikrofon pembawa acara, seorang perempuan yang mungkin bagian dari Kepresidenan BEM Universitas Trisakti. Suaranya lembut, bergema, dan jernih; entah karena kualitas sound system yang baik atau karena ia sendiri membawakannya dengan tenang dan penuh percaya diri.
“Penampilan puisi dari Gilang Moenawar…”
@Bersambung…..
* M. Gilang Moenawar. Penyair muda Teluk Buli, saat ini menempuh studi di Jogja