Kali Pekaulang yang Malang

7 Januari 2026

Catatan Editor: Tulisan ini ditulis pada November 2016, ketika dampak kerusakan Kali Pekaulang mulai dirasakan warga. Kami memuatnya kembali sebagai bagian dari Arsip Ingatan, menandai peringatan telah lama ada dan persoalan ini tidak hadir secara tiba-tiba.

Dulu anak-anak mandi di situ, bisa melompat dan menyelam.” (Kepala Desa Baburino, 27 November 2016)

November yang basah. Tapi hari itu hujan seperti malas jatuh. Di bantaran Kali Pekaulang, dua ekor sapi duduk mengunyah pelan, menatap sungai yang kian mendangkal. Tak jauh dari situ, asap tipis mengepul dari parapara kelapa. Seorang ibu paruh baya menguliti batok, sementara sisa-sisa kulit kelapa berserakan—sebagian terbawa banjir.

Kali Pekaulang, 27 November 2016

Kali Pekaulang tak seperti dulu lagi. Setiap hujan mengguyur kampung ini, sungai memuntahkan airnya keluar, merembesi pemukiman dan menghanyutkan apa saja yang dilewatinya. Beberapa rumah yang berdiri tak jauh dari bantaran terpaksa memindahkan semaian pala ke tempat yang lebih tinggi. Genangan tampak di sepanjang tepian. Di beberapa titik, air mencari jalannya sendiri—melewati belukar, membelah kebun-kebun warga.

Saluran air yang dahulu nyaris tak dialiri, kini berubah menjadi sungai-sungai kecil. Air tak lagi sepenuhnya mengikuti alur kali utama. Akibatnya, beberapa dusun kelapa layu dan mati. Padahal, pada kisaran tahun 1970 hingga 1980-an, sungai ini tak pernah bermasalah. Jejaknya masih terlihat dari pertumbuhan kelapa yang kala itu subur dan normal.

Sebab

Apa jadinya bila alam hanya dipandang sebagai komoditas? Saat hutan dan kayu diperebutkan demi rupiah, alam perlahan menampakkan akibatnya. Kawasan ini memang lama menggoda para pengusaha kayu. Dari ulin hingga govasa, dari linggua sampai samama—kayu-kayu kelas satu dan dua menjadi incaran.

Barito Pasifik Sumber Grup adalah salah satu perusahaan yang masuk dengan hasrat itu. Operator senso, alat berat, dan jalan-jalan baru diarahkan ke hutan demi mengeluarkan pohon-pohon dari rumahnya. Kali Pekaulang, yang menghalangi mobilitas kayu, kemudian dibentangi jembatan dari ulin raksasa—disusun berlapis-lapis, kokoh.

Namun setelah penebangan besar-besaran selesai dan keuntungan diraup, jembatan itu ditinggalkan. Pada medio 1990-an, ia runtuh dan menutup alur sungai tepat di tengahnya. Sejak saat itu, air mulai mencari jalannya sendiri. Aliran-aliran baru terbentuk, sungai mendangkalkan dirinya, dan sejak awal 2000-an kebun-kebun warga mulai tergenang.

Yang diserang bukan perusahaan yang dulu melukai sungai, melainkan dusun kelapa dan kebun warga—yang tak pernah punya kaitan langsung dengan Barito.

Pemulihan

Ketika air mulai menggenangi kampung dan mengancam keselamatan warga, Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum melakukan normalisasi pada 2008, dilanjutkan setahun kemudian. Sekitar empat tahun, sungai tampak lebih tenang. Luapan hanya terjadi saat hujan sangat deras. Beberapa dusun kelapa perlahan pulih. Kebun-kebun dibersihkan, diolah kembali.

Amuk Lagi

Namun sungai seperti memiliki hukumnya sendiri. Normalisasi yang tak tuntas hingga ke hilir justru memunculkan masalah baru. Muara Kali Pekaulang yang lebih kecil tak mampu menampung debit air besar dan pekayuan dari hulu. Kini, batang-batang kayu, sabuk kelapa, dan sisa pemarasan kebun tersendat—sebagian mengendap.

Sejak 2013, anak-anak tak lagi melompat atau menyelam di kali. Sungai ini dangkal. Bagian atasnya tertutup lumpur. Dengan jujur, mari kita bertanya: Bisakah pengurus daerah memulihkan kembali Kali Pekaulang? Bisakah kita bernurani untuk tak lagi menjual kayu dalam jumlah besar kepada perusahaan? Bisakah kita belajar bersama menjaga kali, merawatnya seperti anak sendiri? Bisakah pada November-November mendatang, sapi-sapi di bantaran kali tak lagi menatap sungai yang dangkal?

Pekaulang, 27 November 2016