Oleh: Surya Saluang*
Catatan Editor: Tulisan ini pertama kali dimuat dalam Majalah Salawaku, Ruang Bertutur Orang Biasa, edisi IV, tahun 2015. Kami memuatnya kembali di sini sebagai bagian dari Ruang Bertutur, karena gagasannya tetap relevan membaca krisis sosial-ekologis hari ini.
…. Selama ‘99% sejarah umat manusia’ itu, metode perolehan ilmu pengetahuan apakah yang dominan? Jawabannya adalah metode, yang sedikit banyak, dan dalam berbagai bentuk-bersifat, katakanlah, mistis, yang didalamnya hubungan antara manusia dan alam selebihnya adalah suatu hubungan yang diwarnai dengan kebersatuan dan bersifat interaktif-partisipatif. Sehingga, sebagai konsekuensinya, proses mengetahui lebih bersifat ontologiseksistensial ketimbang epistemologis-, yakni sesuatu hubungan yang dicirikan oleh keterpisahan subjek-objek, sebagaimana terungkap dalam Dualisme Cartesian.(Haidar Bagir, 2010)

SEPANJANG usia manusia berada di atas bumi, dengan segenap pengetahuan dan moralitasnya, adalah dua abad yang terakhir ini menjadi masa-masa paling cepat dari perusakan kehidupan bumi. Baik aras sosial maupun ekologi. Kecepatan perusakan yang tidak pernah ada sebelumnya ini, melampaui kecepatan perusakan bumi oleh tangan-tangan manusia terhitung sejak ribuan tahun lalu.
Perusakan bumi dua abad terakhir, masih berkali lipat lebih cepat, dibanding sejarah perusakan oleh manusia sejak ribuan tahun lalu. Fantastis! Semakin menakjubkan, ketika kerusakan itu bisa berlangsung sedemikian cepat, berkat ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kelahiran ilmu modern itu dipertegas dengan penemuan manusia modern melalui Cogito Cartesian. Secara sederhana disebut sebagai penemuan kognisi (rasio) sebagai unsur pembeda paling kunci antara manusia dengan makhluk lain.
Dalam aklamasinya terkenal itu, Descartes pernah menyatakan, “Aku Berpikir maka Aku Ada” Pikiran atau rasio, dianggap sebagai pembeda manusia dari bagian alam lainnya. Dengan rasio yang setara kognisi, berada di benak belahan kiri; ilmu pengetahuan modern dibangun.
Dengan keberadaan dirinya sebagai satu-satunya yang berpikir, manusia modern merasa dirinya lebih tinggi dari alam yang tidak “berpikir”. Dengan rasio dan pengetahuannya itu, manusia modern menaruh dirinya sebagai makhluk berotoritas untuk memberikan “penilaian” atas seluruh unsur kehidupan.
Kesatuan metabolik manusia-alam malah berlahan diputus. Moda pengetahuan modern memisahkan antara natur (alam) dan kultur (manusia), dengan posisi kultur superior terhadap natur yang inferior. Superioritas kultur (super ego Cartesian) merasa berhak menentukan arahnya natur. Dalam susunan ini, terjadi kelancangan yang luar biasa atas natur yang sesungguhnya siklis, ketika natur dijustifikasi dari medan yang motifnya selalu dinamis (pergerakan motif manusia yang selalu berubah).
Kelancangan manusia atas alam, terus membesar. Manusia makin yakin dengan teknologi, yang diasumsikan suatu saat nanti mampu menjembatani fungsi-fungsi alam bagi manusia. Kenyataannya, sama sekali teknologi sampai hari ini tidak mampu menjembatani fungsi-fungsi alam yang vital. Justru sebaliknya, teknologi menjadi alat percepatan perusakan alam. Dari relasi manusia modern dan alam yang semakin buruk, akhirnya manusia modern berlomba mengeksploitasi alam habis-habisan. Moda ilmu pengetahuan modern menjadi jauh berbeda dari moda pengetahuan sebelumnya.
Pengetahuan pra-modern selalu memunculkan Tuhan serta aspek-aspek transendental di sekitar kehidupan sebagai sentimen utama. Etik menjadi kerangka sistematiknya. Pengetahuan modern memunculkan manusia itu sendiri sebagai pusat dari segala sentimennya. Pengetahuan modern dengan aklamasinya mengenai “penemuan rasio”, menjadi dasar yang sistematis bagi cara-cara pemunculan ego di atas lainnya.
Ego yang rasional menjadi otoritas yang mesti diacu. Dengan alas itu, pengetahuan terus tumbuh sebagai cara untuk memproduksi otoritas-otoritas ego (kekuasaan) melalui metodologi. Etik dibicarakan sebagai pemanis cita kemanusiaan. Namun bukan bagian integral di dalam metodologi. Metodologi digadang sebagai sesuatu yang sepenuhnya lahir dari kerja rasio semata, baik konseptual maupun empiris. Dari hal-hal seperti itulah, ilmu modern dianggap shahih, dengan sebutan khasnya: ilmiah. Jadilah dunia meranggas, kering.
Kredo “ilmiah” dihidupkan dengan berbagai alas metodologi untuk tujuan justifikasi. Baik pengembangan konsep-konsep maupun berbagai infrastruktur penunjangnya (peer group, terminologi, metodologi, wacana, diskursus, dst). Walau awalnya upaya Descartes mendudukkan hakikat ontologi cara berpengetahuan (epistem) sebagai sandaran yang tidak tertolak bagi mungkinnya pengetahuan, yakni “Aku yang berpikir”, namun dalam perkembangannya malah semakin terperosok pada cara berkekuasaan; “Aku ada karena berpikir”, atau “aku berkuasa berkat pikiran”, dalam berbagai bentuknya. Ada, Kuasa dan Pengetahuan, menjadi sentimen kunci dalam praktik politik kemanusiaan modern.
Ilmu pengetahuan dan teknologi modern semakin mumpuni menyingkap cara kerja realitas, sekaligus menaruh sistematika “otoritas ilmiah”nya yang asumsi dasarnya pada dualisme subjek-objek (aku subjek yang memikirkan sesuatu objek). Manusia menjadi subjek yang mengamati secara “berjarak” segala objek di luar dirinya.
Otoritas ilmiahnya menjadi cara untuk menjustifikasi segala objek dalam kehidupan untuk kepentingan tersebut, pada awalnya alam. Dalam perkembangannya, pengetahuan sebagai jalan kuasa itu melahirkan kolonialisme Barat di setengah lebih bentang bumi. Subjek modern kini menjustifikasi sesama manusia lainnya, sebagai belum modern. Lebih terang lagi, dianggap belum “beradab”.

Manusia dengan sistematis memilah relasinya dengan alam sedemikian rupa. Dalam semangat pengetahuan modern memproduksi alas metodik, peristilahan, wacana, dan berbagai formalisme lanjutan yang tak habis-habisnya. Ego yang semakin membesar. Dunia yang tandus. Subjek pengetahuan modern menjadi terdidik untuk menaruh hasrat kuasa sebagai hal paling niscaya dalam dirinya.
Dengan dalih pemberadaban, subjek modern melajukan nafsu kuasanya pada level yang paling rendah (badaniah), yakni perampasan berkah alam di wilayah koloni demi penumpukan kekayaan sepihak. Penjajahan berabad-abad di belahan bumi selatan menjadi masa yang paling berarti tentang bagaimana pengetahuan modern menjadi alat terdepan untuk bisa bekerjanya kekuasaan yang zalim melalui pengetahuan. Sebuah dunia dengan “kemajuan” pengetahuannya sebagai pangkal kehancurannya sendiri, mulai jelas dari sini.
Di masa yang cukup panjang ini, pengetahuan asli di daerah-daerah terjajah diberangus, disurukkan ke dalam kubangan dengan sebutan-sebutan subordinat; “belum beradab”, “terbelakangan”, “mitos”, “irasional”, “tahayul”, dan seterusnya. Cara pandang dan semangat hidup merdeka dikerangkeng, ditundukkan, dan akhirnya dihapus.
Pengetahuan asli di berbagai wilayah jajahan tersebut berbeda modusnya dengan pengetahuan modern kolonialis. Pengetahuan asli masih menempatkan posisi manusia dalam kesatuan daur bersama alam, tak terpisahkan. Bersifat metabolik, yakni, hubungan antara alam dan manusia tak bisa dipisahkan, dan tak bisa diperantarai. Alam setara dengan manusia dalam cara ini, alam adalah sesuatu yang hidup, memiliki ruh dan kepribadian pula. Pengetahuan dalam cara ini berfungsi untuk jembatan harmoni hidup. Usaha mengerti alam, adalah usaha untuk menghormati siklusnya dan dari situ manusia belajar gramatika kehidupan yang asasi.
Sedangkan pengetahuan modern telah memilah-milah hubungan manusia dan alam, serta menaruh teknologi sebagai fantasi pengganti fungsi-fungsi alam. Dalam kepercayaan dirinya sebagai juru justifikasi, kolonialisme mempergunakan dalih pengetahuan modern untuk menguras alam. Alam sejak itu diposisikan sebagai sumber daya dalam pengertian surplus ekonomi, sebagai barang yang mati, sebagai komoditas. Kerangka pengetahuan macam ini, terus menggelembung-membesar hingga hari ini.
Daur pengetahuan yang terhubung kepada daur kapital telah bekerja setidaknya sejak lima abad belakangan di seantero bumi, menghasilkan kolonialisme dan imperialisme, terjadinya krisis alam paling akut sepanjang keberadaan manusia, degradasi moral, konflik sosial, patologi, dan seterusnya.
Pengetahuan modern yang menyebut dirinya sebagai perjuangan emansipasi manusia, namun dalam keniscayaan penguasaan ekonomi. Suatu perjuangan kemunculan manusia di dunia menjadi bermakna dengan bekal ekonomi. Kebermaknaan itu, bersifat aktual (koresponden, positivis) dan bukan lagi semata-mata bersifat mitis atau pun metafisis sebagaimana yang digugat oleh ego Cartesian.
Kerja pengetahuan yang menjurus menjadi kerja kekuasaan aktual ini dianggap menjadi jaminan utama untuk bisa memproduksi makna-makna modernitas, memapankan sistemnya, dan mengarahkan laju kehidupan. Prestisi kemanusiaan modern ada pada pertarungan antar berbagai sistem pemaknaan aktual (ideologi) yang masing-masingnya sama-sama berhasrat menjadi yang paling utama (ego) di antara lainnya. “Tuhan” atau hal-hal yang berbau psiko-transenden sebagai kriteria pangkal (aksiomatik) ataupun ujung (teleleologis) dalam cara berpengetahuan pelan-pelan terus tersingkir secara pasti.
Hal-hal demikian dianggap tidak prestisius, kolot, instingtif, tidak shahih atau irasional. Dalam pertumbuhan ego seperti inilah, melalui jembatan kembar pengetahuan dan kekuasaan, relasi antar sesama manusia menjadi relasi untuk saling menghegemoni, dan relasi manusia dengan alam menjadi relasi eksploitasi.
Ekonomi menjadi sentimen terbesar yang terus memanasi geliat perebutan dan persaingan pengetahuan dan kekuasaan dalam dunia modern. Sebagaimana modernitas itu belajar dari kenyataan sejarahnya sendiri, pertumbuhannya dibiayai dari perampasan sumber kekayaan di belahan bumi Selatan-Timur oleh kolonialisme Utara-Barat. Justifikasi otoritatif awal yang ia dengungkan, sebagai Gold, Glory dan Gospel, tiga kata sakti (atau juga kata suci) yang menafasi kolonialisme sepanjang lima abad lebih.
Memasuki abad ke-19, semua negara penjajah tumbuh sebagai tipologi ego modern, yang satu sama lainnya, saling bersaing, sama-sama mengklaim dirinya sebagai ikon terdepan dari ego modern. Sekaligus, sentimen ekonomi menjadi motif paling dasar dari semua persaingan ini. Karena dari penguasaan ekonomi-lah berbagai kejayaan itu bisa berlangsung selama ini. Terjadinya perang dunia pertama dan kedua merupakan kontradiksi dari asumsi emansipasi modernitas. Yang berlangsung malah adu jago, adu kemampuan dalam ilmu dan teknologi, sekaligus target penguasaan ekonomi.
Sesama negara penjajah kini ingin saling menjustifikasi satu sama lain. Semua ini masih kental dengan aura semangat Revolusi Ilmiah Copernicus dan Galileo Galilei sekitar lima abad sebelumnya. Tapi, bukankah di abad ke-19, merupakan masa-masa dimana kapal terbang baru saja menjadi kenyataan umum; masa dimana teknologi modern mampu menjawab apa yang dianggap mitos “manusia terbang” semata selama ribuan tahun sebelumnya.
Perang dunia pertama, dan yang kedua khususnya, menjadi momentum puncak dari pertarungan ego, pengetahuan, dan kuasa; di pusat-pusat pengembangan pengetahuan modern itu sendiri. Ironi pengetahuan modern! Ironi emansipasi manusia modern! Telah mengemuka demikian jelas, memakan korban jutaan orang. Dalam kedua perang ini, puncak-puncak pengetahuan modern beserta teknologi, dikerahkan hanya untuk saling menghancurkan. Hitler, Mussolini, Stalin dan sebagainya, menjadi sosok-sosok representatif yang sama-sama berhasrat untuk disebut sebagai ego terdepan dalam masa ini.
Ketiganya mewakili berbagai sistem pemaknaan (ideologi) yang saling berbeda, namun dalam prakteknya, bertingkah sama saja. Seterusnya, kedua perang ini juga menjadi titik pacu termutakhir tentang bagaimana cara berpengetahuan dan berkekuasaan berkembang ke depannya.
Di masa pasca kolonial, sentimen kekuasaan ekonomi dan pengetahuan terus berlanjut justru semakin mendalam. Jatuhnya jutaan korban tidak mampu mengevaluasi pertumbuhan ego yang makin kebablasan itu. Dari dua perang inilah, upaya representasi ego paling menyeluruh terus berlanjut memunculkan dua negara adikuasa di muka bumi: Sovyet dan Amerika. Begitu pula, kedua perang ini pun mengajarkan suatu modus ekonomi mutakhir: menyangkut penguasaan bahan dan energi berskala global menjadi mutlak.
Di sisi ini, sesungguhnya masih ada kekhawatiran yang akut, dimana teknologi masih tidak mampu memproduksi bahan dan energi setara yang dihasilkan oleh mekanisme alam. Bukannya meralat keterbatasan kognisi (ego) yang memunculkan perang itu, yang terjadi malah pembesaran sentimen perebutan bahan dan energi dari keterbatasan demikian; terbatasnya sumber alam dan terbatasnya kemampuan teknologi dalam menggantikan alam.
Belajar dari perang dunia misalnya, Nazi Jerman mengalami kekalahan karena kekurangan pasokan bijih besi untuk baja, untuk pembuatan panser-panser tempur. Kedigdayaan strategi perang “lompat katak” Jepang di Pasifik, lumpuh berkat keberhasilan Amerika “menjinakkan” Einsten dengan pemahamannya atas bahan dan energi nuklir yang menghasilkan bom atom.
Masih banyak contoh lainnya. Perebutan wilayah-wilayah utama untuk bahan dan energi oleh negara adikuasa ke seantero dunia, menjadi babakan baru, yang dikenal sebagai perang dingin. Dalam masa ini, ketimbang terus memproduksi dan menguatkan sistem pemaknaannya, manusia modern semakin dalam justru mulai memproduksi “mitos-mitos modern”.
Apa yang sebelumnya ditolak oleh modernitas, justru dihidupkan kembali oleh modernitas dalam cara-cara baru demi melazimkan kuasa, tersusun dari rerantai rumit berskala global dari sistem pengetahuan formal, sistem kuasa, sistem wacana dan hegemoni beserta segala infrastrukturnya. Mitos modern diproduksi sebagai jembatan-jembatan baru yang lebih persuasif dalam kerja justifikasi atas yang lain; seakan objektif, mitos tersebut justru menyelubungi apa yang benar-benar dimaui, yang sesungguhnya berbeda dari tampakannya. Apa yang benar-benar dimaui adalah penguasaan ekonomi, yakni menyangkut bahan dan energi.
Sistem pengetahuan pasca perang dunia, beserta segala ideologi yang mengitarinya, semakin terarah pada kerja-kerja produksi mitos sebagai selubung penguasaan dan hegemoni ekonomi. Kolonialisme melahirkan ekonomi perampasan secara sistematis, berlanjut pada imperialisme dengan kematangan ekonomi kapitalisme, yang menaruh keniscayaan akumulasi surplus secara sepihak (kebebasan pasar) sebagai dasar pembangunan teori (neo klasik). Adaptasi pengetahuan terus berlangsung dalam berbagai cara, agar terhubung sebagai bagian dari kematangan sistem kapitalisme.
Dalam berbagai disiplin, “watak pemasaran” ditanamkan sudah sejak awal abad 20 sebagai babakan motif pengetahuannya yang termutakhir (dicirikan oleh kelahiran iklan sebagai teknologi mitos modern). Prestisi kehidupan ditaruh pada profesionalisme kerja, semakin seseorang menjadi seperti mesin, semakin professional ia, dan semakin dianggap bagus prestasinya.
Untuk itu, berdasar “kemesinannya”, seseorang berhak mendapat upah. Amerika menjadi perwakilan utama dari sistem ini sejak era perang dingin sampai saat ini (walau saat ini tumbuh berbagai raksasa kapitalisme baru bahkan semakin otonom atas negara).
Bermula dari sejak pasca perang dunia, Amerika telah jauh hari mempersiapkan diri dalam kompetisi perebutan bahan dan energi global. Sudah sejak awal Amerika berupaya membangun pengaruh di dunia ketiga yang kaya sumbersumber bahan dan energi, untuk terangkai ke dalam sistemnya dengan Amerika sebagai negara pengakumulasi puncak.
Pengaruh dari sebelah kiri atau blok Sovyet di dunia ketiga yang menaruh dendam pada kolonialisme sehingga beririsan semangatnya dengan sosialisme, dieliminir sejak awal pula oleh blok kanan. Dalam pertimbangan itulah, pemerintah Amerika pada tahun 1940-an telah memulai serangkaian kerja konsolidasi diri, sejak dari ranah pengetahuan sampai politik praktis, bagaimana menanamkan pengaruhnya di dunia. Memasuki era 1950-60-an, dengan mandat menjalankan tugas negara, Amerika memerintahkan sejumlah ilmuwan liberalnya dari The Center for International Studies (MIT) untuk melakukan sejumlah kerja teorisasi beserta standar aplikasinya, demi memenangkan pertarungan penguasaan bahan dan energi berskala global.
Sejumlah ilmuwan ini berhasil mengembangkan sebuah konsep yang masih bergema sampai hari ini: pembangunan. Kata ini masih bekerja sebagai mitos mutakhir di dunia ketiga. Melalui watak pemasaran yang mumpuni, Amerika mengeksport konsep “pembangunan” ke dunia ke tiga, dan memang itulah tujuannya.
Pembangunan dimaklumi sebagai peta jalan bagi dunia ketiga mengejar ketertinggalannya dalam berbagai bidang pengetahuan, sosial, ekonomi dan politik. Konsep ini terus disempurnakan dan dilengkapi dari waktu ke waktu, dengan dasar-dasar dari Teori Modernisasi (Huntington, Mclelland, Inkeles), Teori Sumber Daya Manusia, dan turunannya dalam Teori Pertumbuhan (W.W Rostow), dan seterusnya. Eksport pembangunan ke dunia ketiga bisa berjalan lancar berkat politik bantuan, dimana dunia ketiga masih memiliki keterbatasan cukup tinggi dalam berbagai aspeknya.
Di bawah payung pembangunan dan modernisasi, kerja-kerja subordinasi sistem pengetahuan asli atau tradisional sebagaimana di masa kolonial, terus berlanjut di hadapan sistem pengetahuan modern yang dinilai makin objektif, terukur atau ilmiah.
Dalam perkembangannya menjadi semakin telak, ketika tradisionalisme dinilai menghambat modernisasi, sehingga harus dienyahkan. Koordinasi ruang sosial terus menerus terbentuk dalam cara-cara baru, dimana modernisasi dianggap sebagai kemajuan peradaban dengan Barat sebagai pionirnya. Pembangunan di dunia ketiga ditujukan untuk kemajuan peradaban ini. yang juga berarti, melepas kebiasaan dan sistem pengetahuan asli, beralih pada sistem pengetahuan Barat yang ilmiah.
Semua ini berlangsung dalam cara-cara yang makin persuasif sebagaimana mitos bekerja. Memasuki tahun 1970-an, di bawah tuntunan teori pertumbuhan, Amerika kembali mengekspor konsep “Revolusi Hijau”, sebuah konsep pembangunan pertanian sebagai landasan surplus yang memadai untuk masuk ke tahapan negara industri. Demi mencapai targetnya (pertumbuhan), pertanian pun diubah, dari sebelumnya bercorak tradisional dan subsisten, menjadi lebih industrial dan mekanis.
Untuk itu, diperlukan suatu sistem menyeluruh, dengan jalan paling praktisnya adalah penyeragaman pola pertanian rakyat. Industrialisasi pertanian ini bekerja melalui teknologisasi, suntik modal (kredit), penyeragaman bibit unggul, penggunaan pestisida massal, penyeragaman kelembagaan, prioritas pada cash cropping (nominal uang atas hasil panen), atau perkapita petani.
Indonesia menjadi pelaksana yang begitu patuh pada gagasan ini. Di Indonesia, pada pertengahan 1970-an, seorang pelajar bernama Sajogyo memulai suatu evaluasi atas program Revolusi Hijau yang berlaku di Indonesia, melalui sebuah tulisannya berjudul, Modernization Without Development.
Dari judulnya, sudah tersirat, bagaimana modernisasi ternyata bukanlah pembangunan. Apa yang diandaikan sebagai kemajuan pertanian, hanya bisa dialami oleh golongan petani bertanah luas, sedangkan hampir 80 % lebih petani Indonesia merupakan petani gurem (berlahan kecil). Dengan berbagai item yang diterapkan dalam industri pertanian ala Revolusi Hijau, pada akhirnya hanya membuat struktur ketimpangan di pedesaan semakin melebar.
Program ini hanya cocok untuk petani berlahan luas, yang dengan itu memiliki kemampuan untuk mengakses bentuk-bentuk pendekatan yang ada dan menangguk surplusnya. Sementara, bagi kebanyakan petani berlahan kecil, berbagai pendekatan tersebut tidak berdampak positif. Malah sebaliknya, menjerat petani dalam pertanian berbiaya tinggi, terjebak ketergantungan atas bibit tertentu, saprodi, teknologi, pengetahuan dan lainnya.
Di beberapa bagian, pendekatan kredit pertanian justru menjadi awal mula yang cukup penting dari proses-proses pelepasan tanah oleh petani kecil bersebab terjerat utang saprodi dan moda ekonomi desa yang mulai berubah.
Dari Revolusi Hijau, kritik pembangunan berlangsung, apa yang sesungguhnya memang sedang dibangun? Bukanlah rakyatnya, tetapi pembangunan kapital. Revolusi Hijau berhasil mencetak petani berlahan luas menjadi elit baru pedesaan yang sukses meluaskan usahanya ke luar pertanian, berbekal surplus dari pertanian. Sembari itu, justru mendorong proses deagrarianisasi terlebih bagi petani berlahan sempit, yang terjerat ketergantungan mendalam.
Di Indonesia, kritik Sajogyo tersebut menjadi pangkal penting dari pemeriksaan program pembangunan, berikut berbagai teori pendukungnya. Hanya saja, rezim otoriter Orde Baru membuat geliat ini menjadi tersuruk dalam komunitas terbatas. Memasuki masa reformasi, sebagai babakan baru demokrasi, keluar dari cengkraman otoritarianisme, justru semakin tampak bahwa substansi pembangunan bukanlah pada rakyatnya, namun, adalah pembangunan kapital yang disetir oleh keperluan ekonomi dunia pertama.
Pembangunan rakyat menjadi pembangunan atau penataan kelas-kelas pekerja dengan berbagai level kebutuhan kapasitas (SDM) yang memadai, atau, pembangunan rakyat dalam kerangka mematangkan struktur bangunan kapital.
Justifikasi teoritik-ilmiah menjadi kunci awal bisa bekerjanya setir ini di dunia ketiga. Sudah sejak masa kolonial, semakin canggih sampai hari ini. Mengutip Gillian Hart, yang membedakan antara Pembangunan (dengan P besar) sebagai proyek intervensi negaranegara maju ke dunia ketiga pasca perang, dengan pembangunan (dengan p kecil) yang nyatanya adalah pembangunan kapitalisme dalam dinamika sejarah antar berbagai tempat yang saling terhubung satu sama lain ke dalam sistem ini, sekaligus menunjukkan porsi masing-masing. Kapitalisme memang memiliki kemampuan mengadaptasi terus-menerus.
Riak-riak yang berkembang dalam masyarakat menjadi terhubung ke dalam sistemnya. Mengamati proyek-proyek pembangunan di berbagai wilayah menjadi setara sebagai pemeriksaan tentang bagaimana kapitalisme bekerja di berbagai konteks, lokal-global.
Dalam kerja pemeriksaan seperti demikian, Sajogyo mengusung kredo pesimisme mikro, di hadapan optimisme makro. Yakni suatu penggalian di level mikro, untuk menunjukkan bagaimana asumsi-asumsi makro pembangunan tidak berlangsung di lapangan. Jika diksi yang diusung adalah membangun rakyatnya, yang berlangsung malah pembesaran struktur kapital dan melebarnya jurang ketimpangan.
Asumsi-asumsi, penelitian pemeriksaan dan berbagai teori keilmuan pada akhirnya terus bertarung dalam “menafsirkan” (menjustifikasi) keadaan. Memasuki era 1990-an, adaptasi kapital di segenap lajur kehidupan terus berlangsung semakin tak tanggung-tanggung.
Di masa-masa ini, merupakan bentuk paling buruk dari bagaimana relasi manusia dan alam menjadi porak-poranda. Modus pengetahuan kontemporer memunculkan suatu cara pandang baru, dimana daur alam mulai dikerangkai menurut logika perputaran uang atau daur kapital. Sifatnya global, daur alam didudukkan dalam satu konteks kesatuan ekologi bola bumi, namun sebagai basis bagi perputaran uang antara utara dan selatan.
Suatu moda akumulasi berbasis komoditisasi fungsi-fungsi alam. Misalnya, mekanisme perdagangan karbon menjadi salah satu yang paling fenomenal. Dalam mekanisme ini, pihak-pihak penghasil emisi yang menyebabkan pemanasan global, mesti membayar kepada pihak-pihak yang merawat kelestarian pepohonan (hutan), karena pepohonan yang menghasilkan karbon berarti menjernihkan kembali atmosfir bumi dari emisi. Perdagangan karbon berlangsung antara penghasil emisi seperti pabrik-pabrik, dengan penghasil karbon seperti masyarakat sekitar hutan (indigenous people, dsb).
Logika ini tidak menuntaskan perusakan alam, justru, menjadi mekanisme yang melegalkan perusakan alam melalui sejumlah pembayaran karbon. Di sisi lain, konsumsi bahan alami secara membabi buta, seperti bahan bakar fosil (yang paling berkontribusi pada pemanasan global), juga tidak terevaluasi. Yang terus berlangsung hanyalah penciptaan mekanisme-mekanisme baru, adaptasi tahap lanjut, agar konsumsi dan produksi tetap bisa berlangsung, sekaligus terus membesar dari sisi akumulasi. Krisis sosial-ekologi di sekujur bola bumi ini, bukannya bisa diatasi, malah percepatannya semakin didorong dengan berbagai alas keshahihan pengetahuan.
Ralat pengetahuan menjadi mendesak. Daur pengetahuan yang terhubung kepada daur kapital telah bekerja setidaknya sejak lima abad belakangan di seantero bumi, menghasilkan kolonialisme dan imperialisme, terjadinya krisis alam paling akut sepanjang keberadaan manusia, degradasi moral, konflik sosial, patologi, dan seterusnya. Dalam makna inilah, kerja daur pengetahuan mesti dihubungkan kembali kepada daur alam, sebagai satu-kesatuan, manusia-alam.
Daur metabolik ini yang mestinya dihidupkan kembali. Di samping itu, daur pengetahuan yang terhubung kepada moda akumulasi kapital, harus dievaluasi habis-habisan. Dua sayap kerja ini menjadi simultan satu sama lain. Daur pengetahuan metabolik itu sendiri, sesungguhnya masih hidup nyata sampai hari ini di berbagai belahan bumi, dalam berbagai caranya bertahan dari gempuran kolonialisme, imperialisme, kapitalisme dan mitos modernitas.
Kita butuh mewaspadai kerangka pandang terlebih dulu, yang membuat semua itu menjadi tak terlihat selama ini, atau malah ikut-ikutan menudingnya kolot dan negatif. Seakan-akan, seperti sedang membongkar ulang, setidaknya dua abad belakangan, bagaimana bekerjanya daur pengetahuan sebagai bagian dari daur kapital. Lebih jauh, cetak biru daur metabolik itu sendiri sudah ada dalam diri kita sendiri, masing-masing, karena kita, manusia, adalah bagian langsung dari alam itu sendiri.
*Surya Saluang, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Driyarkara-Jakarta. Penulis Buku Perampasan Ruang Hidup, Cerita Orang Halmahera (2015).