Kebakaran di kawasan Gunung Wato-Wato, Halmahera Timur, Maluku Utara, hingga malam ini masih berlangsung. Kami memperkirakan area kebakaran sudah lebih dari 100 hektar. Memasuki hari kesepuluh ini, sejumlah titik api belum berhasil dipadamkan dan masih terus meluas karena keterbatasan peralatan dan semakin jauhnya sumber air dari titik-titik kebakaran.
Pemuda Desa Teluk Buli dan Buli Karya bersama warga laki-laki dan perempuan selama sepuluh hari berupaya melakukan pemadaman secara mandiri. Namun kemampuan masyarakat sangat terbatas. Peralatan pemadaman yang tersedia tidak memadai untuk menjangkau seluruh titik api, sementara medan dan ketersediaan air menjadi kendala utama.

Malam ini, dampak kebakaran mulai dirasakan hingga ke permukiman. Bau kayu terbakar telah tercium oleh warga, terutama di Desa Teluk Buli dan Buli Karya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran yang berlangsung di kawasan Wato-Wato tidak lagi dapat dipandang sebagai peristiwa yang hanya terjadi jauh dari ruang hidup warga.
Di tengah kondisi itu, warga masih berupaya melindungi water intake, sumber pengambilan air yang menjadi bagian penting dari sistem penyediaan air bersih bagi warga Desa Teluk Buli.
Bagi warga, situasinya menjadi semakin mengkhawatirkan: satu sisi api masih berlangsung, sisi lain sumber air yang berada di kawasan yang sama harus dijaga dari ancaman kebakaran.
Warga Menanggung Beban Pemadaman Sendiri
Kami menghargai keberanian dan solidaritas pemuda serta warga Teluk Buli dan Buli Karya dan berbagai pihak yang selama sepuluh hari terakhir berusaha menjaga Wato-Wato dari api. Tetapi, kerja warga tidak boleh menjadi alasan bagi negara dan pemegang izin untuk tidak hadir. Berdasarkan informasi lapangan kami kumpulkan, kawasan yang terbakar berada dalam wilayah perizinan pertambangan PT Priven Lestari.
Kebakaran Wato-Wato memiliki persoalan yang jauh lebih serius karena berkaitan erat dengan sumber air kehidupan orang Buli. Kawasan ini sebagai wilayah penting bagi sumber air dan daerah tangkapan air.
Kebakaran yang berlangsung lama juga dapat meninggalkan persoalan lanjutan. Vegetasi yang terbakar dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi ketika hujan turun. Pada saat yang sama, pohon-pohon besar yang telah terbakar tetapi masih berdiri menimbulkan risiko keselamatan bagi warga yang masih berusaha memadamkan api di sekitar intake itu. Pohon yang kehilangan kekuatan akibat kebakaran dapat tumbang sewaktu-waktu.
Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur bersama BPBD, KPH, Dinas Lingkungan Hidup, serta instansi teknis terkait untuk segera melakukan asesmen langsung terhadap kebakaran Wato-Wato.
- Mengerahkan peralatan dan personel yang memadai untuk memadamkan titik api yang belum terjangkau warga;
- Memastikan pemegang izin (PT. Priven Lestari) menjalankan kewajiban pencegahan, pemadaman, pelaporan, dan penanganan pascakebakaran;
- Melindungi water intake Teluk Buli, Buli Karya, dan Kecamatan Maba serta memantau kondisi sumber air;
- Memantau kualitas udara di permukiman yang terdampak asap dan bau pembakaran;
- Menyiapkan pemulihan kawasan, termasuk perlindungan sumber air, pengendalian erosi, dan pemulihan vegetasi;
- Membuka informasi kepada masyarakat mengenai lokasi dan luasan kebakaran, status kawasan, penanganan, serta pihak yang bertanggung jawab.
Tahun 2023 masyarakat Buli telah menyampaikan penolakan terhadap rencana aktivitas pertambangan di kawasan Wato-Wato karena kekhawatiran terhadap sumber air dan keselamatan lingkungan hidup orang Buli.
Hari ini kekhawatiran itu nyata di hadapan mata warga: api yang telah berlangsung selama sepuluh hari, bau kayu terbakar yang mulai mencapai permukiman, dan sumber air yang harus dijaga warga dari ancaman kebakaran. Warga tidak seharusnya dipaksa memilih antara menjaga sumber air dan mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri dalam memadamkan kebakaran. Negara harus hadir. Pemegang izin harus bertanggung jawab. Dan warga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.
Wato-Wato Benteng Terakhir Orang Buli.
Jaga Sumber Air
Warga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.